Laman

Kamis, 31 Januari 2013

Kerajaan Mataram Kuno



Kerajaan Mataram Kuno
Dinasti Sanjaya
       Kerajaan Mataram terletak di Jawa Tengah dengan daerah intinya disebut Bhumi Mataram. Daerah tersebut dikelilingi oleh pegunungan dan gunung-gunung, seperti Pegunungan Serayu, Gunung Prau, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Ungaran, Gunung Merbabu, Gunung Merapi, Pegunungan Kendang, Gunung Lawu, Gunung Sewu, Gunung Kidul. Daerah itu juga dialiri banyak sungai, diantaranya Sungai Bogowonto, Sungai Progo, Sungai Elo, dan yang terbesar dalah Sungai Bengawan Solo. Mata pencaharian utama dari rakyat Mataram Kuno adalah pertanian, sementara masalah perdagangan kurang mendapat perhatian.
1. Sumber Sejarah
Bukti-bukti berdirinya Dinasti Sanjaya diketahui melalui Prasasti Canggal (daerah Kedu), Prasasti Belitung, Kitab Carita Parahyangan.
ü  Prasasti Canggal (732 M)
Prasasti ini dibuat pada masa pemerintahan Raja Sanjaya yang berhubungan dengan pendirian sebuah Lingga. Lingga tersebut adalah Lambang dari Dewa Siwa. Sehingga agama yang dianutnya adalah agama Hindu beraliran Siwa.
ü  Prasasti Balitung (907 M)
Prasasti ini adalah prasasti tembaga yang dikeluarkan oleh Raja Diah Balitung. Dalam prasasti itu disebutkan nama raja yang pernah memerintah pada Kerajaan Dinasti Sanjaya.
ü  Kitab Carita Parahyangan
Dalam hal ini diceritakan tentang hal ikhwal raja-raja Sanjaya.
2. Kehidupan Politik
Kerajaan Mataram diperintah oleh raja-raja keturunan dari Dinasti Sanjaya. Raja-raja yang pernah berkuasa di kerajaan Mataram diantaranya:



Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya
Menurut Prasasti Canggal (732 M), Raja Sanjaya adalah pendiri Kerajaan Mataram dari Dinasti Sanjaya. Raja Sanjaya memerintah dengan sangat adil dan bijaksana sehingga kehidupan rakyatnya terjamin aman dan tentram.
Raja Sanjaya meninggal kira-kira pertengahan abad ke-8 M. Ia digantikan oleh Rakai Panangkaran. Berturut-turut penggantian Rakai Panangkaran adalah Rakai Warak dan Rakai Garung.

Sri Maharaja Rakai Pikatan
Setelah Rakai Garung meninggal, Rakai Pikatan naik tahta. Untuk melaksanakan cita-citanya menguasai seluruh wilayah Jawa Tengah, Rakai Pikatan harus berhadapan dengan Kerajaan Syailendra yang pada masa itu diperintah oleh Raja Balaputra Dewa. Karena kekuatan Kerajaan Syailendra melebihi kekuatan Kerajaan Mataram, maka jalan yang ditempuh Rakai Pikatan adalah meminang Putri dari Kerajaan Syailendra yang bernama Pramodhawardani. Seharusnya Pramodhawardani berkuasa atas Kerajaan Syailendra, tetapi ia menyerahkan tahtanya kepada Balaputra Dewa.
Rakai Pikatan mendesak Pramodhawardani agar mau menarik tahtanya kembali dari Balaputra Dewa, sehingga meletuslah perang saudara. Dalam perang itu, Raja Balaputra Dewa dapat dikalahkan dan lari ke Kerajaan Sriwijaya. Dengan demikian, cita-cita Rakai Pikatan untuk menguasai wilayah Jawa Tengah tercapai.
Dinasti Syailendra
Pada pertengahan abad ke-8 M di Jawa Tengah bagian selatan, yaitu di daerah Bagelan dan Yogyakarta, memerintah seorang raja dari Dinasti Syailendra. Pada masa pemerintahan Raja Balaputra Dewa, diketahui bahwa pusat kedudukan Kerajaan Syailendra terletak di daerah pegunungan di sebelah selatan berdasarkan bukti ditemukannya peninggalan istana Ratu Boko.
1. Sumber Sejarah
Prasasti-prasasti yang berhasil ditemukan diantaranya sebagai berikut:
ü  Prasasti Kalasan (778 M)
Prasasti ini menyebutkan tentang seorang raja dari Dinasti Syailendra yang berhasil menunjuk Rakai Panangkaran untuk mendirikan sebuah bangunan suci bagi Dewi Tara dan sebuah Bihara untuk para pendeta. Rakai Panangkaran akhirnya menghadiahkan desa Kalasan kepada Sanggha Budha.
ü  Prasasti Kelurak (782 M) di daerah Prambanan
Prasasti ini menyebutkan tentang pembuatan arca Manjusri yang merupakan perwujudan Sang Budha, Wisnu, dan Sanggha, yang dapat disamakan dengan Brahma, Wisnu, Siwa. Prasasti itu juga menyebutkan nama raja yang memerintah saat itu yang bernama Raja Indra.
ü  Prasasti Ratu Boko (856 M)
Prasasti ini menyebutkan tentang kekalahan Raja Balaputra Dewa dalam perang saudara melawan kakaknya Pramodhawardani dan selanjutnya melarikan diri ke Sriwijaya.
ü  Prasasti Nalanda (860 M)
Prasasti ini menyebutkan tentang asal-usul Raja Balaputra Dewa. Disebutkan bahwa Balaputra Dewa adalah putra dari Raja Samarottungga dan cucu dari Raja Indra (Kerajaan Syailendra di Jawa Tengah).
Di samping prasasti-prasasti tersebut di atas, juga terdapat peninggalan-peninggalan berupa candi-candi Budha seperti Candi Borobudur, Mendut, Pawon, Kalasan, Sari, Sewu, dan candi-candi lainnya yang lebih kecil.
2. Kehidupan Politik
Pada akhir abad ke-8 M Dinasti Sanjaya terdesak oleh dinasti lain, yaitu Dinasti Syailendra. Peristiwa ini terjadi ketika Dinasti Sanjaya diperintah oleh Rakai Panangkaran. Hal itu dibuktikan melalui Prasasti Kalasan yang meneybutkan bahwa Rakai Panangkaran mendapat perintah dari Raja Wisnu untuk mendirikan Candi Kalasan (Candi Budha).
Walaupun kedudukan raja-raja dari Dinasti Sanjaya telah terdesak oleh Dinasti Syailendra, raja-raja dari Dinasti sanjaya tetap diakui kedudukannya sebagai raja yang terhormat. Hanya harus tunduk terhadap raja-raja Syailendra sebagai penguasa tertinggi atas seluruh Mataram.
Berdasarkan prasasti yang telah ditemukan dapat diketahui raja-raja yang pernah memerintah Dinasti Syailendra, di antaranya:
Raja Indra
Dinasti Syailendra menjalankan politik ekspansi pada masa pemerintahan Raja Indra. Perluasan wilayah ini dtujukan untuk menguasai daerah-daerah di sekitar Selat Malaka. Selanjutnya, yang memperkokoh pengaruh kekuasaan Syailendra terhadap Sriwijaya adalah karena Raja Indra menjalankan perkawinan politik. Raja Indra mengawinkan putranya yang bernama Samarottungga dengan putri Raja Sriwijaya.
Raja Samarottungga
Pengganti Raja Indra bernama Samarottungga. Pada zaman kekuasaannya dibangun Candi Borobudur. Namun sebelum pembangunan Candi Borobudur selesai, Raja Samarottungga meninggal dan digantikan oleh putranya yang bernama Balaputra Dewa yang merupakan anak dari selir.
3. Kehidupan Sosial
Kehidupan sosial Kerajaan Syailendra, ditafsirkan sudah teratur. Hal ini dilihat melalui cara pembuatan candi yang menggunakan tenaga rakyat secara bergotong-royong. Di samping itu, pembuatan candi ini menunjukkan betapa rakyat taat dan mengkultuskan rajanya.

4. Kehidupan Budaya
Kerajaan Syailendra banyak meninggalkan bangunan-bangunan candi yang sangat megah dan besar nilainya, baik dari segi kebudayaan, kehidupan masyarakat dan perkembangan kerajaan. Candi-candi yang terkenal seperti telah disebutkan di atas adalah Candi Mendut, Pawon, Borobudur, Kalasan, Sari, dan Sewu.
Nama Borobudur diperkirakan berasal dari nama Bhumi Sambharabudhara. Bhumi Sambhara berarti bukit atau gunung dan Budhara berarti raja. Jadi arti dari nama tersebut adalah Raja Gunung, yang sama artinya dengan Syailendra. Candi Borobudur memiliki suatu sistem yang terbagi dalam tiga bagian yaitu Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar